Globalisasi dan Pendidikan

Posted: 28 April 2010 in politik, sosial dan budaya

Pemikiran ttg Globalisasi

Perdebatan tentang globalisasi, baik sebagai konsep cakupan, maupun keunikan fenomenanya masih sengit diperdebatkan.1) Karenanya hingga saat ini globalisasi tidak memiliki makna yang tunggal. Namun demikian, prinsip penting globalisasi dapat dengan mudah dikenali, yaitu bahwa globalisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses multidimensional dalam aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, yang bergerak secara ekstensif dan intensif dalam kehidupan masyarakat dunia yang mengubah cara berpikir dan bertindak mereka.

Globalisasi bergerak secara ekstensif berarti bahwa perubahan cara berpikir masyarakat tersebut menjangkau wilayah geografis yang hampir tak terbatas, sedangkan intensif bermakna bahwa perubahan tersebut juga mencakup dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Karenanya sebagai fenomena yang kian nyata, globalisasi terus menjadi pembicaraan hangat. Bagi mereka yang berpendapat bahwa fenomena yang tengah berlangsung sebenarnya hanyalah bentuk lebih lanjut dari transnasionalisasi dan atau internasionalisasi, jargon “globalisasi” dipandang sebagai tawaran konsep yang longgar dan terlalu terburu-buru.2)

Dalam cara pandang ekonomi politik, globalisasi dianggap mendatangkan serentak keuntungan dan malapetaka.3) Malapetaka akibat globalisasi ini melanda sebagian besar masyarakat di negara-negara berkembang, sebab globalisasi untuk sebagian besar hanya menguntungkan korporasi multinasional yang sangat oligarkis. Karenanya globalisasi yang dalam bentuk nyata adalah proses liberalisasi (baca: menghilangkan peran negara dalam melindungi warganya) sangat jelas secara sengaja didorong oleh mereka yang selama ini menuai keuntungan darinya, yaitu korporasi multinasional, sektor swasta, negara-negara maju melalui lembaga-lembaga multilateral semacam Bank Dunia (WB), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan Dana Moneter Internasional (IMF). Karena lebih didorong oleh kepentingan kapitalisme, fenomena globalisasi tersebut sering juga dikenal dengan sebutan “globalisasi dari atas”.4) Sebaliknya, tentangan dari mereka yang dirugikan disebut dengan istilah “globalisasi dari bawah”,5) karena globalisasi juga melahirkan solidaritas antar mereka yang termarjinalkan kapitalisme. Contoh nyata dari globalisasi di bidang pendidikan adalah disahkannya UU Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang tidak lain adalah swastanisasi pendidikan. Diiringi pula dengan dikeluarkannya kebijakan membuka investasi asing di sektor pendidikan, melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 77/2007. PP No. 77/2007 yang mengatur tentang sektor-sektor yang terbuka dan tertutup bagi penanaman modal asing yang memasuki bidang pendidikan, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Fenomena globalisasi

Jadi, globalisasi tidak lain adalah cerita tentang bagaimana modal transnasional yang kuat melindas kedaulatan rakyat bahkan hingga hak mereka yang paling mendasar seperti pendidikan, sebagaimana terjadi dalam gerak pertama dari kerangka analisis Karl Polanyi tentang gerakan ganda (dual movement) dimana “pasar yang mengatur dirinya sendiri” (self-regulating market; baca: kapitalisme) memperluas lingkup komodifikasinya hingga menjangkau juga berbagai bidang yang tadinya dalam masyarakat sebelum kapitalisme masih termasuk dalam wilayah bukan pasar — termasuk di dalamnya bidang kehidupan.6) Menurut pandangan ini, globalisasi menimbulkan banyak ketercerabutan masyarakat karena hancurnya sistem sosial yang logikanya semakin dikebawahkan (subordinated) pada pola pikir pasar semata-mata. Paradigma pendidikan untuk mencari keuntungan (education for profit) adalah contoh yang paling sederhana, dimana rakyat dipaksa menanggung sendiri biaya pendidikan mereka yang kian hari kian mahal, sesuai dengan tuntutan kemajuan. Maka jelas bahwa wajah garang globalisasi tidaklah dapat dipisahkan dari ideologi yang kini menjadi arus utama, yaitu neoliberalisme.

Catatan:

  1. Lihat misalnya Hirst, Paul, dan Thompson Grahame, Globalization in Question: The International Economy and the Possibilities of Governance, Cambridge: Polity Press, 1996; Imam, Robert H, “Globalisasi. Proses dan Wacana Kompleks serta Konfliktual,” dalam Wibowo, I, dan B Herry-Priyono (eds.) Sesudah Filsafat: Esai-esai untuk Franz Maginis-Suseno, Yogyakarta: Kanisius, 2006.
  2. Ibid., hal. 165.
  3. Herry-Priyono, B, “Menyangsikan Corak Globalisasi,” Kompas, 28 Agustus 2007.
  4. Istilah “globalisasi dari atas” digunakan terutama setelah Jeremy Brecher mempopulerkan istilah “globalisasi dari bawah” untuk menjelaskan bahwa globalisasi juga mendorong kalangan masyarakat sipil merespon atas proses globalisasi yang didominasi oleh kepentingan kapital kuat yang berasal dari negara-negara kapitalis lanjut. Lihat Brecher, Jeremy, et al, Globalization from Below. The Power of Solidarity, Cambridge, MA: South End Press, 2000.
  5. Ibid.
  6. Polanyi, Karl, The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time, Boston: Beacon Press, 1994, sebagaimana dijelaskan Imim, Robert H, loc.cit., hal. 171.
Komentar
  1. smkn1nglegokonline mengatakan:

    bung pendek, salah satu tokoh cendikiawan indonesia tanpa instansi

  2. smooloTat mengatakan:

    dobry poczatek

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s