Ditabrak Trail Polisi, Anjal Demo Polresta

Posted: 6 Desember 2008 in esai, Hukum, sosial dan budaya

Sekitar 20 anak jalanan (anjal) yang kesehariannya menjadi pengamen, kemarin melakukan aksi di Mapolresta Malang. Anak jalanan yang berusia antara 7 – 16 tahun ini mengeluhkan aksi penertiban preman yang dilakukan polisi.

Mereka pernah menjadi korban kekerasan oknum polisi yang sedang melakukan razia preman beberapa minggu terakhir. Ada yang ditrabrak sepeda motor trail, dipukul pakai gitar, dan diancam bala dibunuh jika tetap mengamen di kawan tertib lalulintas (KTL).

Dalam aksinya, puluhan anjal ditemani tiga kelompok pemerhati anak, yakni Komunitas Aku Juga Anak Bangsa, Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT), dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA).

Mereka mengawali aksi dari sekretariat JKJT di Jl. Bogor sekitar pukul 12.30 dengan berjalan kaki menuju ke mapolresta. Dalam perjalanan sejauh kurang lebih lima kilometer itu, mereka menyanyi dan menyebarkan brosur tentang kekerasan yang dialami.

Tiba di polresta, koordinator aksi, Tedja G.K Bawana, meminta untuk bertemu dengan Kapolresta Malang AKBP Atang Heradi. Sementara Atang sendiri saat itu sedang tidak ada di kantor. “Kami akan tunggu sampai kapan pun hingga Pak Kapolresta datang,” teriak lima orang perwakilan peserta aksi ketiak di ruang dialog Kasat Samapta AKP Susanto. Namun, setelah sekitar 45 menit menunggu, mereka akhirnya pulang dan bersedia datang dua hari lagi.

Dalam kesempatan tersebut, Tedja menjelaskan bahwa pihaknya meminta polisi melakukan kajian terhadap operasi preman. Dia menilai harus ada garis tegas yang tidak diskriminatif dan menghormati hak hidup masyarakat miskin. “Yang membuat bangsa ini terpuruk bukan mereka yang berpakaian lusuh, tapi mereka yang berpakaian rapi dan berdasi,” terangnya.

Karena itu, dia memprotes aksi kekerasan yang dilakukan oknum polisi. “Kami membawa anak jalanan ke sini bukan untuk mencari siapa yang salah. Tapi meminta kejelasan serta mempertemukan polisi dengan anak jalanan. Karena sekarang anak jalanan trauma dengan sikap oknum polisi,” jelas dia.

Tentang aksi kekerasan, salah satu anjal bernama Richard, 12, mengaku pernah ditabrak motor trail milik polisi saat melakukan penertiban pengamen di perempatan Jl. Basuki Rahmad. “Kejadiannya seminggu lalu sekitar pukul 15.30. Usai ditabrak, lalu Pak Polisi kabur,” ujar anjal keturunan Timor Leste ini sambil menunjuk kaki kirinya yang terluka.

Demikian juga Irawan, 9, dia mengaku dipukul gitar oleh polisi di depan Masjid Sabilillah, Jl. A. Yani, Blimbing. Aksi tersebut dilakukan saat polisi melakukan penertiban kepada anak jalanan di kawasan Jl. Ahmad Yani. Atas tudingan itu, AKP Susanto membantahnya. “Tidak ada pemukulan kok. Yang ada hanyalah operasi simpatik,” sangkalnya. Dia menegaskan bahwa polisi akan tetap melakukan razia terhadap pengamen serta preman. “Meski kami didemo, langkah razia untuk ketertiban umum,” ujar dia.

Sumber: Jawa Pos, Radar Malang (06/12/08)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s