fatwa dan kekerasan

Posted: 11 Desember 2008 in esai

Ada yang miris dari laporan Komnas HAM tentang Ahmadiyah yang dikeluarkan Januari silam. Laporan itu secara gamblang menyebutkan bahwa berbagai peristiwa kekerasan yang menimpa Ahmadiyah dalam beberapa tahun terakhir sangat terkait erat dengan pola pemahaman kaum muslim yang dibentuk dan disebarluaskan oleh para tokoh agama.

Dalam kasus Ahmadiyah, lembaga MUI berperan langsung dalam membentuk sikap-sikap intoleran dan kebencian. Komnas HAM menyimpulkan, berbagai kasus penyerangan dan perusakan gedung-gedung Ahmadiyah berpangkal pada fatwa MUI.

Sebetulnya, temuan Komnas HAM itu tidak terlalu mengejutkan. Bahwa ada korelasi antara sikap keberagaman tertentu dengan kekerasan telah lama menjadi kesimpulan banyak studi. Yang mengejutkan adalah bahwa hal itu dinyatakan dalam sebuah dokumen resmi dan diumumkan ke publik. Selama ini, hampir tidak ada orang yang berani mengatakan bahwa fatwa MUI secara langsung bertanggungjawab terhadap kekerasan atas Ahmadiyah.

Sejak didirikan 1975, MUI mengeluarkan lebih dari 50 fatwa. Tentang Ahmadiyah, MUI telah mengeluarkan fatwa. Pertama, pada Juni 1980. Kedua, pada Juli 2005.

Dalam dua fatwa itu, MUI menegaskan bahwa “Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan.” Pada fatwa pertama, MUI tidak secara jelas menyebutkan konsekuensi pemberian status sesat itu. Dalam fatwa terbarunya, konsekuensi itu jelas disebutkan, yakni mengajak kaum muslim untuk menyikapi persoalan tersebut secara tegas.

Fatwa adalah pandangan keagamaan yang dikeluarkan oleh ulama. Banyak orang mengatakan bahwa “fatwa tidak mengikat.” Maksudnya, fatwa tidak memiliki konsekuensi legal. Tetapi, mengatakan bahwa fatwa tidak memiliki dampak sosial dan politis adalah sebuah kekeliruan. Bagaimanapun, fatwa bukanlah pernyataan awam, tapi pernyataan sebuah otoritas agama.

Fatwa pada dasarnya adalah sebuah konsep Islam yang perannya baru datang agak belakangan. Di masa nabi, istilah “fatwa” secara teknis tidak pernah dikenal. Ada sebuah hadist nabi yang cukup terkenal, yakni “Istafti qalbak” (mintalah fatwa dari hatimu). Hadist ini menegaskan karakter fatwa yang personal dan individual, bukan proyeksi sebuah lembaga.

Pada masa Soeharto, kolaborasi antara ulama dan penguasa itu juga pernah terjadi. Bahkan, pendirian MUI sesungguhnya merupakan inisiatif penguasa. Soeharto waktu itu membutuhkan MUI untuk mengabsahkan kebijakan-kebijakannya, khususnya yang terkait dengan persoalan sosial-keagamaan. Salah satu contoh sukses kerja sama itu adalah fatwa tentang Keluarga Berencana (KB).

Dengan jatuhnya Soeharto, posisi MUI lambat-laun menjadi semakin otonom. Di tengah maraknya radikalisme Islam sejak sepuluh tahun terakhir, peran MUI semakin penting. Dengan dukungan dari masyarakat Islam yang semakin konservatif, MUI memiliki sedikit kekuatan dan kepercayaan diri dalam berhadapan dengan negara.

Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampak ragu menghadapi MUI. Sebagai lembaga yang independen, MUI kini mulai bisa mengatur dirinya sendiri kendati keungan tetap ditunjang negara. Lembaga ini bisa memilih para anggotanya tanpa intervensi pemerintah, sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada masa Soeharto. Namun, ada dampak buruknya; beberapa tokoh ultrakonservatif, yang kurang memahami arti bernegara, mulai masuk ke dalam lembaga itu.

Akhirnya, mungkin diperlukan sedikit dosis kebijakan dan kerendahhatian bagi para otoritas agama. Merasa paling benar sendiri adalah sikap yang jauh dari ajaran Islam, yang secara tegas menyatakan “wa fawqa kulli dzi ‘ilmin alim” (di atas orang berilmu, ada yang lebih berilmu). Di luar klaim kebenaran, ada kebenaran.

Sumber: Koran Jawa Pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s