Memberhalakan Pengeras Suara

Posted: 11 Januari 2009 in sosial dan budaya

Oleh: Slame A Sjukur (pemusik)

Ternyata dia sudah meninggal, dikubur dua bulan lalu. Sulit dipercaya seorang sahabat yang sejak lama terasa sebagai keluarga sendiri tahu-tahu pergi begitu saja untuk selamanya.

Rupanya saya yang tidak mendengar, waktu pagi-pagi menjelang subuh ada orang mengetuk pintu, mau memberi tahu tentang sahabat tadi yang baru meninggal dan akan dikebumikan siangnya. Betapapun keras ketukan di pintu tidak akan terdengar, karena tenggelam oleh pengeras suara yang begitu kencang dari surau di kampung.

Ini hanya salah satu contoh dari kebisingan setiap hari karena penggunaan pengeras suara yang berlebihan. Di dalam rumah pun orang-orang terpaksa harus berteriak kalau berbicara. Membaca dengan konsentrasi, menjadi sulit. Apalagi berfikir tenang untuk mengarang, mustahil!

Tapi ini memang ciri zaman. Zaman yang tidak dipercaya orang lagi, dari iklan anti-ketombe sampai bualan kelas kambing orang-orang politik. Maka setiap orang ingin meyakinkan dengan cara lebih lantang dari yang lain, Nafsu untuk meyakinkan lebih dahsyat dari kerendahan hati untuk mendengarkan suara lain. Dan orang tidak menyadari hal ini sebagai ketakaburan, karena tidak dapat mengekang diri, atau mungkin karena memang godaan setan.

Terbayanglah negeri dongeng dengan mahluk-mahluk yang mengeluarkan suara halilintar, namun tidak ada satu pun yang mendengarnya, karena memang tidak ada yang punya telinga. Pasti akan celaka seandainya ada yang memilikinya, seperti lelucon berikut ini yang menjalar di kampung saya.

Vonny (dulu panggilannya Yem dari namanya Poniyem) cepat-cepat ke pintu membukakan tamu dan mempersilahkannya duduk. Pada tamunya itu diberitahu bahwa ayahnya sekarang pendengarannya sangat berkurang, maka dimohon supaya nanti kalau bicara yang keras. Vonny kemudian masuk menemui ayahnya. “Wah payah, Pak, tamunya budeg, jadi harus teriak kalau omong”.

Bertemulah sang ayah dengan tamunya, percakapan akrab dan menyenangkan tapi serba ngotot, sampai suatu saat sang ayah berbicara pada dirinya sendiri “capik juga ngobrol dengan orang tuli”. Tamunya yang tidak budeg tentu saja mendengar keluhan yang punya rumah…..

Di dalam peradaban moderen, sudah lazim kalau semua orang berbicara melalui pengeras suara, dari pidato presiden sampai peminta-minta sumbangan.

Orang yang masih taat mempercayai telinga sebagai anugerah illahi, merasa semakin tertindas oleh penjajahan yang tidak kasat mata. Dengan menundukkan ‘pendengaran publik’, pengeras-suara semena-mena menguasai lingkungan.

Polusi suara sudah diterima sebagai bagian dari kemajuan teknologi, seperti halnya kemacetan lalu-lintas. Kita terlalu malas untuk mencari solusi yang cerdas agar kemajuan bisa lebih bermanfaat dan bukannya kesasar menggiring kita ke jalan buntu.

Max Plank Institut di Jerman, sudah lama mendapatkan fakta bahwa orang-orang yang bekerja di tempat yang bising, lebih emosional dan lebih banyak punya masalah keluarga dibandingkan dengan mereka yang bekerja di tempat yang tenteram. Kebisingan bisa mengganggu cara bekerja hati, sistim peredaran darah, cortex otak sebagai jaringan penghubung berbagai fungsi ke seluruh sistim saraf.

Pada tahun 1956, di Moskwa dilarang membunyikan klakson mobil. Tahun1959 berdiri International Society Against Noise di Zurich, Swis.

Pada tahun 1964 Argentina membentuk Dewan Pengendalian Kebisingan. Pemerintahnya yang tidak suka ‘mengimbau’, langsung membuat peraturan yang jelas mengenai perbedaan antara kebisingan ‘yang tidak perlu’ dan kebisingan ‘yang berlebihan’.

Kebisingan, seperti juga hal-hal lain, kalau menyangkut selera, menjadi sangat pribadi dan relatif. Yang bising bagi seseorang belum tentu bising bagi orang lain. Namun secara biologis, kemampuan pendengaran manusia mempunyai keterbatasan. Dengan satuan dB (deci Bel) untuk mengukur kekuatan bunyi, ambang pendengaran kita terhadap bunyi yang paling halus ialah 0 dB, bunyi nafas kita terletak pada sekitar 10 dB, kemerisik dedaunan dibelai angin sekitar 20dB, percakapan antara dua orang tidak lebihdari 60 dB, keramaian lalu-lintas 70 dB, kereta api yang masuk stasiun kekuatas bunyinya 100 dB, pesawat terbang tinggal landas 120 dB, letupan senapan dari jarak dekat 130 dB dan bisa membuat telinga mengeluarkan darah, membrannya yang menangkap getaran sobek.

Maka tidak sulit membayangkan betapa tertekannya saraf yang sehari-harinya dilanda pengeras-suara dengan kekuatan 90 dB, seperti yang diceritakan di awal artikel ini. Orang bisa terbiasa, tentu, seperti kuli-kuli di stasiun, tapi diam-diam sistim sarafnya kacau dan jiwanya tertekan.

Kepedulian pada bunyi-lingkungan sama mendesaknya dengan kesadaran perlunya menjaga keseimbangan ekologi. Ini masalah nasional yang harus melibatkan berbagai pakar di bidang akustik, biologi, saraf, psikologi, agama, hukum dll.

Ketika Galileo dengan teleskopnya mulai menangkap kemaha-luasan langit, seorang filsuf Pascal sudah merasa ngeri membayangkan heningnya keabadian yang tiada batas.

Tapi bunyi ada dimana-mana dan kita memestakannya sampai lupa diri, atas nama kemajuan dan kebenaran.

Sumber: Harian Kompas, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s