Masyarakat Abu Nawas

Posted: 13 Januari 2009 in esai

Oleh: Dhiman Abror Djuraid

Masyarakat kita dari dulu sering disebut sebagai masyarakat yang bijaksana, tidak suka mengkritik orang secara terbuka, dan tidak suka menyinggung perasaan orang lain secara terbuka. Itu merupakan bagian dari wisdom (kebijaksanaan) masyarakat yang, mungkin, menjadi nilai lebih yang tidak dipunyai masyarakat lain.

Untuk menutupi borok korupsi yang sudah merajalela, misalnya, orang menciptakan istilah-istilah yang aneh-aneh dan bahkan lucu-lucu. Uang korupsi disebut sebagai uang transpor. Uang sogok disebut sebagai uang rokok. Uang pelicin disebut sebagai uang terima kasih. Uang hasil komisi haram disebut sebagai uang dengar, dan seterusnya, dan seterusnya.

Mari iseng-iseng melihat lagi padanan yang kita pakai untuk korupsi. Kita akan lihat bahwa yang dipakai adalah bahasa yang lunak. Kata korupsi (corruption) yang aslinya sangat negatif, bisa berubah tidak terlalu buruk. Kita memadankan uang korupsi dengan suap, sogok, pelicin, semir ataupun sunat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, suap berarti menggunakan jari untuk menjumput makanan dan memasukkan ke dalam mulut. Suap bisa juga berarti membantu anak kita untuk makan dengan menyorongkoan makanan ke mulutnya. Ada konotasi hubungan kasih sayang di dalam kata itu.

Ada juga yang menyebut suap dengan sogok. Dalam bahasa Jawa, sogok berarti menggunakan alat kecil (biasanya panjang) untuk menyentuh sesuatu dengan mendorongnya. Dalam kamus bahasa Indonesia, sogok berarti merogoh, mencolok, menjolok ke dalam liang. Entah bagaimana dulu asbabun nuzul-nya kok kata ini dipakai untuk mengganti korupsi. Konotasinya, korupsi bukan lagi sesuatu yang buruk dan jahat, tetapi mungil dan lucu.

Ada yang memakai istilah sunat supaya terdengar lucu karena melibatkan anak kecil yang dipotong ujung zakarnya. Tidak dipakai istilah sembelih atau gorok yang lebih seram. Padahal, para pejabat itu memotong 40 persen resmi setiap dana proyek yang mengucur. Kalau namanya sunat, seharusnya yang dipotong hanya 5 persen di bagian ujung. Anda bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau yang disunat itu 40 persen zakar…

Masih seabrek lagi istilah untuk menutupi kenyataan korupsi di sekitar kita sehingga kita tidak sadar bahwa korupsi itu begitu merajalelanya. Orang-orang yang risau sudah putus asa karena merasa tidak mungkin lagi korupsi dihilangkan atau diberantas. Orang-orang jujur dan bersih seperti Frans Magniz Suseno sudah menyerah. “Kita di ambang kehancuran karena korupsi,” katanya tanpa harap.

Ada yang masih terus berusaha melawan. Cak Nur dan teman-temannya, misalnya. Ada juga sekelompok pengusaha yang sudah capek dengan korupsi (mungkin mereka juga bagian dari orang tobat, karena selama ini mereka bagian dari pengogok dan penyuap) yang membuat gerakan moral dengan mengumumkan pakta antikorupsi. Rupanya mereka capek menyogok dan menyuap pejabat. Tapi, ketika pakta itu disodorkan ke pemerintah, serta merta ditolak. Tidak perlu menandatangani pakta, wong semua pekabat ketika dilantik sudah disumpah di bawah kitab suci untuk tidak korupsi. Itu alasannya.

Kalau korupsi dilakukan orang kecil seperti ngutil dan ngenthit (ini juga istilah yang lucu), mudharat-nya kecil juga. Tapi, kalau korupsi dilakukan orang besar dan pintar, dampaknya akan mengerikan; corruption by the best is the worst. Semakin besar jabatan Anda semakin buruk dampak korupsi yang Anda lakukan. Semakin pintar dan cerdik Anda, semakin besar korupsi yang bisa Anda lakukan dan semakin sulit mendeteksinya.

***

Sistem demokrasi yang sekarang kita anut setelah Pemilu 1999 sebenarnya mempunyai potensi untuk bisa memberantas korupsi. Katanya, pemerintah yang demokratis akan memunculkan kekuatan oposisi yang bisa terus-menerus mengontrol pemerintah yang berkuasa. Sistem pasar bebas yang menyertai sistem demokrasi liberal juga berpotensi untuk memberangus korupsi. Ini semacam teori kausalitas atau teori sunatullah. Masalahnya, kita sudah punya demokrasi, tetapi korupsi jalan terus. Itu berarti demokrasi kita belum beres.

Haruskah kita tinggalkan demokrasi dan kembali sistem militerisme-otoritarian? Jangan. Percayalah, sistem demokrasi memang lemah, tetapi dibanding sistem lainnya, demokrasi yang terbaik.

Marilah kita ciptakan masyarakat Abu Nawas, kita hadapi kepahitan dan kesulitan ini dengan senyum. Abu Nawas menganggap semua persoalan hidup ini sebagai lelucon, tetapi pada akhirnya dia bisa menemukan solusi yang jitu bagi persoalan serumit apa pun. Masyarakat kita sudah mempunyai wisdom Abu Nawas. Terbukti mereka bisa menertawakan diri sendiri di tengah kepahitan. Korupsi ini begitu pahit dan pelik. Tetapi dengan kebijaksanaan ala Abu Nawas, kita akan bertahan dan bersabar, sampai sistem demokrasi kita berjalan baik dan korupsi pelan-pelan akan terkikis karena sunatullah. (ror@jawapos.co.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s