Birokrat Kelas Menengah

Posted: 25 Januari 2009 in esai

Pertengahan Januari 2007, markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York City gempar gara-gara sejumlah surat berisi bom. Peristiwa itu sempat menjadi berita utama di berbagai negeri, termasuk Indonesia.

Pada hari yang bersamaan terbetik berita dari Malang, Jawa Timur, tentang kiriman pos bermasalah. Akhir tahun lalu, 93 paket pos membuat repot petugas bea cukai dan kejaksaan. Bukannya paket itu berisi bom, melainkan buku-buku tebal berbahasa Eropa. Buku-buku itu ditahan dan diperiksa kejaksaan, kemungkinan besar akan dimusnahkan.

Mengapa? Menurut berita di beberapa harian, sebagian dari buku itu ditulis oleh seorang filosof besar bernama Karl Marx yang kemudian memberi ilham berdirinya komunisme. Buku-buku itu dianggap sebagai barang terlarang. Pengirimnya (seorang warga negara Indonesia yang sudah lama tinggal di Jerman dan akan pulang ke tanah air) bisa diperiksa dengan undang-undang antisubversi.

Yang barangkali masih kurang adalah pendidikan tentang khazanah sastra Indonesia. Kuliah tentang itu mungkin perlu diperbanyak di tanah air sendiri ketimbang di Amerika Serikat. Kisah itu tak perlu diungkapkan kembali di sini seandainya kesalahpahaman itu hanya terjadi sekali. Atau semata-mata merupakan sebuah pengalaman pribadi, gara-gara khilafnya seorang individu “oknum.”

Dalam sebuah sidah pengadilan subversi di Indonesia di awal dekade ini ada kejadian yang mirip. Sebuah novel tenar karya seorang sastrawan Indonesia yang antikomunisme dijadikan salah satu barang bukti pelanggaran pidana yang didakwakan pihak kejaksaan terhadap pemiliknya. Novel itu berjudul Merahnya Merah karya Iwan Simatupang. Terdakwa dinyatakan bersalah, dan novel surealis itu ikut divonis. Jaksa menuntut novel itu dimusnahkan. Hakim mendukung tuntutan jaksa.

Kejadian itu dipertontonkan umum dan diawasi pemerhati Hak Asasi Manusia dari mancanegara. Menggelikan, memprihatinkan, atau kedua-dunya sekaligus?

Perbedaan itu perlu disimak lebih jauh. Menurut sejumlah ahli hukum Indonesia, kampanye permusuhan terhadap buku-buku karya Marx mengandalkan Ketetapan MPRS No. 25/1966. Padahal dokumen itu hanyalah melarang penyebaran dan pengembangan paham yang disebut “Komunisme/Marxisme-Leninisme.”

Apakah semua karya Marx (termasuk surat-surat cintanya) merupakan karya tulis berpaham Marxisme? Apakah semua karya yang jelas-jelas bercorak Marxisme sama dengan “Komunisme/ Marxisme-Leninisme”? Di sini, orang bisa berdebat. Tentu saja, para petugas bea cukai tak banyak berminat terhadap perdebatan semacam itu. Jaksa dan hakim saja yang memutuskan hidup-mati warga negara belum tentu punya selera. Lagi pula sering diabaikan orang bahwa Ketetapan MPRS No. 25/1966 tidak menyerukan pemusnahan terhadap apapun secara mutlak dan membabi buta. Ketetapan itu secara eksplisit merestui orang mempelajari paham “Komunisme/Marxisme-Leninisme” secara ilmiah. Perkecualian itu dapat dipahami. Bagaimana mungkin pemimpin bangsa ini, dan calon pemimpin dari generasi berikutnya, dapat menentukan sikap yang cermat dan tepat terhadap paham apa pun bila mereka tak pernah diberi kesempatan secara kritis membedah paham bersangkutan?

Akibat yang ekstrem ada dua macam. Pertama, masyarakat Orde Baru telah melahirkan sebuah generasi yang punya ciri khas buta tentang beberapa sisi terpenting dalam sejarah zamannya. Seorang pejabat penting dari Universitas Indonesia pernah mengeluhkan susahnya mendatangkan buku-buku perkuliahan beraksara Cina untuk jurusan studi Cina. Akibat ekstrem yang lain: terjadi pelebaran lingkup pelaksanaan Ketetapan MPRS dan perluasan tindakan represi terhadap apa pun yang seakan-akan berbau Marxisme.

Kedua, para pejabat negara, khususnya di tingkat menengah, memusnahkan buku-buku bukan karena di dorong kebencian terhadap hal yang dimusnahkan, tetapi didasarkan ketidaktahuan terhadap hal yang dimusnahkan dan ketakuran kalau-kalau nanti disalahkan bila tidak bertindak demikian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s