Kekerasan Politik

Posted: 25 Januari 2009 in esai

kekerasan

Sebuah definisi klasik tentang negara sudah diakrabi ilmuwan sosial sejak kuliah tahun pertama. Menurut Webber, negara adalah lembaga sosial yang memiliki hak monopoli untuk menggunakan senjata dan melakukan tindak kekerasan (termasuk membunuh) secara absah, di dalam wilayah kedaulatannya.

Di balik sejumlah analisis menonjol tentang kerusuhan sosial di Tanah Air, ada satu kesamaan asumsi yang layak ditinjau kembali. Semuanya menuduh penduduk lokal yang jelata sebagai pelaku utama kerusuhan. Perdebatan yang berkembang selama ini hampir-hampir sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan keterlibatan lembaga aparatur negara sebagai tersangka. Seakan negara berada di luar jangkauan hukum.

Dalam perdebatan tentang motivasi kekerasan belakangan ini, sebuah teori bisa saling berbeda hanya karena mereka mempersoalkan sisi-sisi lain dari identitas sosial warga lokal. Ada yang mempersoalkan apa agama, etnisitas, nilai budaya, atau kondisi ekonomi penduduk lokal. Dari situ berkembang-biaklah berbagai renungan, nasihat, keprihatinan, atau imbauan tentang kerukunan agama. Ada yang mengutak-atik sejarah ketegangan anatetnik dan budaya. Namun, dengan memberikan pembelaan semacam itu, betapapun tulusnya, para penganut teori itu telah ikut mengukuhkan tuduhan terhadap kaum jelata lokal sebagai pelaku utama sejumlah kerusuhan.

Sampai sekarang, kerangka analisis kekerasan negara masih asing dalam forum kajian ilmu sosial. Juga di Indonesia. Seretnya pertumbuhan kerangka teori ini mudah dipahami. Di satu pihak, aparatur negara tidak akan senang mensponsori penelitian atau pertumbuhan teori semacam itu. Mereka lebih suka mengipas-ngipasi perdebatan perdebatan yang lebih memojokkan warga swasta. Suburlah istilah seperti “konflik SARA,” kerusuhan “massal,” kebrutalan “massa,” atau “kecemburuan sosial,” untuk menjuluki peristiwa.

Sekarang, yang aneh justru mengapa tidak dulu-dulu kita mempertimbangkan faktor negara dalam memahami tindakan kekerasan di masyarakat. Sejarah dunia membuktikan betapa banyak rezim yang berhasil menciptakan stabilitas keamanan lewat kekerasan, bahkan pembantaian massal.

Dalam karya klasiknya tentang sejarah berdirinya bangsa di dunia, ilmuwan Prancis, Ernest Renan menyimpulkan, “Tindak kekerasan selalu menjadi benih terciptanya sebentuk kesatuan politik. Kesatuan senantiasa dibina dengan cara yang brutal.” Sejarah kolonial Hindia Belanda yang penuh kekerasan telah menciptakan teritori Indonesia. Pertumpahan darah tahun 1965- 1966 memberikan landasan berdirinya Orde Baru. Apa pun yang terjadi di Timor Timur tidak terlepas dari sejarah kekerasan yang berkepanjangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s