Hukum Nurani

Posted: 21 Februari 2009 in esai

360px-open_book_01svgGejala yang sangat khas pada umat Islam sejak dulu hingga sekarang adalah kecenderungan menanyakan hukum agama berkenaan dengan semua hal, hingga ke aspek-aspek yang paling detail. Itulah yang menjadi lahan subur untuk lahirnya ribuan fatwa.

Setiap umat Islam hendak melakukan sesuatu, mereka selalu bertanya kepada seorang ulama bagaimana hukum Islam mengenai sesuatu itu.

Ilmu fikih tumbuh subur karena adanya mentalitas selalu ingin menanyakan hukum segala hal tersebut. Gejala itu dianggap normal oleh umat Islam. Sebab, hal itu menunjukkan bahwa umat Islam sadar hukum dan sadar tentang pentingnya menaati hukum (Tuhan) dalam setiap langkah yang mereka ambil.

Memang tidak seluruhnya gejala semacam itu jelek. Tapi, jika berlangsung dengan eksesif, ia jelas akan berdampak buruk pada perkembangan corak keberagamaan dalam umat Islam.

Jika membaca rubrik fatwa yang sekarang menjamur dimana-mana, Anda akan menemukan pertanyaan-pertanyaan aneh, kadang menggelikan.

Dalam suatu rubrik fatwa, saya pernah membaca seseorang menanyakan kepada seorang ulama yang mengasuh rubrik tanya jawab agama tentang bagaimana hukum mengonsumsi minyak ular: apakah diperbolehkan menurut Islam atau tidak.

Waktu saya kecil dulu, pernik-pernik perkara ibadah memang didiskusikan hingga sudut-sudut yang paling pojok sekalipun. Misalnya, bagaimana hukumnya jika seseorang yang berpuasa mandi, lalu air masuk secara tak sengaja ke lubang telinga: batalkah puasanya? Jika seseorang salat memakai sajadah, lalu ujung sajadah itu menyentuh suatu kotoran (najis, misalnya tahi ayam), apakah salat orang tersebut batal atau tidak?

Gejala itulah yang dulu diejek kaum reformis Islam sebagai “fiqh-oriented“. Saya ingin menyebutnya sebagai “fikihisme”. Gejala tersebut dulu umum berlaku hanya di kalangan muslim tradisional di pedesaan. Anehnya, gejala itu sekarang muncul kembali di tengah-tengah masyarakat muslim kota dan justru di kalangan terdidik.

Gejala tersebut, menurut saya, menandakan adanya “ketidakdewasaan moral” dalam umat Islam. Menanyakan hukum Islam mengenai gejala sesuatu menandakan bahwa umat Islam tidak berani berpikir sendiri. Mereka memandang bahwa hukum adalah sesuatu yang tertera dalam teks Kitab Suci, sedangkan hasil penalaran manusia tidak dianggap sebagai suatu hukum yang mengikat.

law_mainKarena orang-orang yang dianggap sebagai ahli tentang teks agama adalah para ulama, mereka selalu berpaling kepada ulama untuk menanyakan segala hal. Menggantungkan segala keputusan kepada ulama, umat Islam tidak berani melakukan penalaran rasional sendiri atas segala hal yang mereka hadapi.

Saya tidak anti ulama. Ulama, buat saya, adalah semacam eksemplar moral yang menjadi inspirasi bagi umat, bukan menjadi semacam “mesin kalkulator” untuk menjawab semua pertanyaan umat. Pada akhirnya, umat harus didorong untuk berpikir sendiri secara dewasa.

Karena itu, saya mengajukan suatu bentuk hukum lain, yakni hukum nurani. Inspirasi gagasan tersebut saya peroleh dari hadist Nabi yang terkenal, Istafti qalbaka, mintalah fatwa pada nuranimu sendiri. Artinya, sangat penting bagi umat Islam untuk mengembangkan kesadaran moral yang tinggi, mendalam, dan penuh tanggung jawab. Hal tersebut tak bisa lain kecuali umat Islam terus mengasah agar nuraninya berkembang secara sehat. Nurani yang sehatlah yang akan menjadi pemandu bagi seorang beriman.

Dalam menghadapi segala sesuatu, ia tak perlu bertanya kepada seorang ustad. Ia hanya perlu bertanya kepada nuraninya sendiri. Ia boleh bertanya kepada seorang ustad, tapi akhirnya keputusan final tetap ada di tangan nurani yang bersangkutan. [ulul abshar-abdalla]

Sumber: harian Jawa Pos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s