Aturan

Posted: 27 Februari 2009 in esai, sosial dan budaya

Oleh: Suka Hardjana

63070Bayangkan, bila dunia ini hanya dihuni para makhluk hidup yang tak punya aturan. Atau, bila hidup ini tak ada aturannya sama sekali. Sedangkan makhluk binatang yang dianggap liar dan buas pun punya aturan hidup. Jelek-jelek, semut si binatang kecil, dan macan, binatang yang dibilang buas pun, punya juga aturan hidup. Bahkan, konon bila mereka sedang berkelahi–saling terkam, saling bunuh–pun ada aturan mainnya.

Silahkan pikir-pikir sendiri bila adu jotoss di ring tinju atau rebutan si bundar manis di lapangan tendang bola digelar tanpa aturan? Lhah, perang antarsuku, antarbangsa dan negara pun ternyata ada juga aturan mainnya.

Dalam soal aturan buatan makhluk hidup, baik binatang maupun manusia sering sama-sama lucu dan aneh. Bedanya, binatang bikin aturan main karena naluri. Manusia bikin aturan konon karena naluri dan rekayasa akal budi. Akal sehat maupun akal bulus. Saya tak paham mana yang lebih baik. Akal sehat atau akal bulus? Yang sering saya dengar dari para cerdik pandai dan piawai hanya aturan itu penting dan untuk menciptakan ketertiban hidup demi peradaban manusia yang harus terus dikembangkan. Waduh!

Persoalan yang sering bikin gaduh adalah siapa pencipta aturan? Siapa pembuat dan penentu keputusan aturan? Untuk siapa dan dengan tujuan apa aturan dibuat? Bagaimana cara mengatur dan melaksanakannya? Siapa mengawasi (jalannya) aturan? Rumit dan panjang ceritanya.

Ada aturan-aturan yang terbilang undang-undang dalam bentuk hukum. Ada aturan dalam khazanah adat. Ada aturan yang disebut tata tertib. Ada aturan yang disepakati sebagai etika. Ada tapres, keppres, bahkan tap thok yang dulu sering dibikin MPR. Pendek kata, ada banyak sekali aturan dibuat di muka bumi dengan keragaman yang terbilang dan untuk tujuan-tujuan berbeda yang tak terbilang pula. Tertibkah manusia? Tak!

Konon, Gusti Allah-lah pembuat aturan pertama dalam sejarah dan… dilanggar! Agaknya semua orang sudah hafal hikayat Adam dan Hawa.

Lantas, karena manusia terus saja bikin kisruh berkepanjangan di bumi dan para malaikat pun kewalahan mengatur perilaku cucu-cucu Adam dan Hawa, maka para nabi lantas dikirim dari langit untuk menertibkan bumi dan seisinya, terutama kelakuan manusia. Lebih baik? Tidak juga.

Aturan-aturan dari langit–dalam riwayatnya–banyak yang bertabrakan dengan aturan yang dibuat para penguasa bumi yang disebut raja, kaisar, presiden, kepala pemerintahan, para pemimpin negara yang terbilang sebagai eksekutor, para wakil rakyat di parlemen yang disebut legislator, para pelaksana, pengawas dan penegak hukum yang disebut “Yang Berwajib” dalam lembaga yudikatif.

Semua lingkaran komunitas sosial-politik manusia dari RT, lurah, camat, bupati, wali kota, Wali Sanga, sampai gubernur, menteri, presiden, dan para preman bikin aturan sendiri-sendiri demi ketertiban yang semakin bikin tidak tertib. Mengapa?

Dalam riwayatnya doeloe, manusia memang sudah tidak tertib dan menjadi pelanggar aturan secara asal-usul. Adam dan Hawa contoh utamanya. Agaknya, aturan dan pelanggaran lantas jadi drama permainan hidup turun-temurun yang tak terhindarkan, kecuali. Kecuali inilah yang belum ada bukti jawabnya yang bisa dipahami dan disepakati bersama. Seperti negeri seberang Amerika dan Timur Tengah, Indonesia pun menjadi semacam “Taman Firdaus” di bumi, tempat uji coba aneka permainan hidup “Aturan dan Pelanggaran” yang terus-menerus dilaksanakan dan gagal mencapai manfaat.

Kata kunci persoalannya masih tetap klasik, yaitu siapa pencipta dan pembuat aturan. Di banyak tempat masih terimbas pengaruh sejarah perilaku para Firaun. Aturan publik yang dibikin untuk para umat ditentukan oleh siapa punya kekuatan, kekuasaan, dan kewenangan (kata kewenangan berasal dari bahasa Jawa wewenang, yang artinya “yang dimenangkan”).

Wewenang sangat sering menjadi alat manipulatif kekuasaan dan kekuatan dalam menciptakan, memutuskan, mengatur, melaksanakan, dan mengawasi aturan untuk kepentingan orang banyak yang terabaikan dan dianggap tidak penting.

Prioritas sepihak yang subyektif (demi kepentingan nasional) dijadikan laih utama. Politik perang Bush-Blair dan para sekutunya menjadi contoh paling aktual abad ke-21 dalam hal manipulasi aturan yang ditunjang sistem kekuatan, kekuasaan, dan kewenangan.

Israel menjadi duplikatornya dan para “penguasa” di Indonesia yang merasa punya kekuatan, kekuasaan, dan kewenangan–dalam konyeks berbeda–menjadi penyontek kecil-kecilan manipulator aturan yang menyengsarakan banyak orang.

Beda dosa di Taman Firdaus dan di Bumi adalah Adam dan Hawa menjadi pelanggar manusia pertama yang sendiri tak menciptakan aturan. Di bumi, kita menjadi manusia turunan yang bikin aturan sendiri–dan dilanggar sendiri. Dosanya lipat-dua-liat, wis…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s