Sugih Iling

Posted: 1 Januari 2011 in sosial dan budaya

Pura Samuan Tiga

Pura Samuan Tiga

Seribu tahun yang lalu, tepatnya tahun 1011, di sebuah tempat yang sekarang menjadi bagian Indonesia, yakni Pura Samuan Tiga, Bali, terjadi sebuah pasamuan yang menggetarkan hati nurani. Di tempat itu, terjadi konsiliasi antara agama Hindu dan sekte-sekte, agama Buddha, serta kepercayaan leluhur.

Konsiliasi itu diprakarsai Raja Udayana Marwadewa dan Permaisuri Sri Gunapriyadharmapatni, serta Empu Kuturan. Selain terjadi dialog saling mengerti untuk menciptakan kerukunan beragama, konsiliasi ini juga menciptakan tatanan baru kerukunan beragama–yang akhirnya menciptakan tiga kahyangan desa di setiap desa pekraman di Bali. Tatanan baru ini sampai sekarang masih hidup di Bali. Bahkan, 1.000 tahun Samuan Tiga akan diperingati tahun 2011.

Cerita ini sangat penting karena membawa pesan bahwa dunia keagamaan itu diletakkan dalam kehidupan sehari-hari, yang dalam konsep kenegaraan melalui prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Dimana, agama tidak hanya membicarakan kebaikan, tetapi mampu menciptakan dialog bersama, yang tidak hanya melahirkan kerukunan, tetapi juga menyusun ide bersama seperti melahirkan tiga kahyangan desa.

Upacara Pasamuan

Dalam konteks kebangsaan, gagasan itu bisa dikembangkan lebih luas melalui tekad untuk bekerja sama menghadapi tantangan bangsa, dengan mengangkat potensi seni tradisi menjadi kekuatan. Sayangnya, ada semacam kekuatan budaya kota dan budaya agama, yang akhirnya menjurus pengelompokan, menggusur kesenian dan kebudayaan tradisi.

Sebenarnya sudah ada kesadaran untuk menjaga agar tidak terjadi benturan antar agama. Tapi baru tingkat elite, belum diperluas sampai ke tingkat lokal dan arus bawah. Kalau saja semua elite punya keinginan serius, seni tradisi bisa menjadi perekat yang kuat bagi kemanusiaan. Namun, sayangnya seni tradisi hanya dilihat sebelah mata, tidak diletakkan sebagai kekuatan kehidupan bermasyarakat dan menjadi komoditas pariwisata.

Konsumerisme

Lumbung kekayaan tradisi yang melimpah jarang tersentuh. Bahkan, seni tradisi ini menjadi seperti pecahan kaca–sesuatu yang sangat bernilai dan bercahaya. Sementara anak bangsa lebih senang menengadah tangan terhadap seni ”modern”. Pasar selebriti menjadi magnet yang tak terkalahkan. Menjurus pada materi. Kekayaan menjadi konsumsi sehari-hari. Keselarasan jiwa dan raga pun tak terjaga lagi.

Semua ini berorientasi pada kota-kota besar, seakan mengingkari bahwa sebagian besar masih tinggal di kampung-kampung dan desa-desa, serta tertatih-tatih menjadi pemulung kebudayaan kita sendiri.

Istilah ”kaya” mengganyang setiap pikiran, tingkah laku, dan tutur kata. Kesuksesan materi (harta) jadi kiblat. Tak heran kalau wong Samin mengingatkan, sebaiknya sugih eling (sadar akan nilai). Lalu, kenapa kita tidak bisa ‘berpikir’ seperti wong Samin? Setidaknya hari ini kita telah mulai menapaki awal tahun 2011.

Musyawarah Wong Samin

Sumber: Padepokan Lemah Putih Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s