Akademia, Budaya Asing dan Pertelevisian Kita

Posted: 6 Januari 2011 in esai, Pendidikan, sosial dan budaya

Oleh: Eko Indra Hidayat (mahasiswa Universitas Jember)

Dunia Mahasiswa

Dunia mahasiswa yang terkenal dengan nuansa ilmiahnya tampaknya sudah mengalami pergeseran nilai. Jarang sekali kita menyaksikan seminar atau aktivitas lain yang mengedepankan unsur ilmiah. Kampus lebih sering menampilkan nuansa hedonis dengan kemasan acara entertainment (hiburan).

Memang, preferensi mahasiswa terhadap acara entertainment tampaknya lebih besar bila dibandingkan dengan kegiatan ilmiah. Salah satunya parameternya dapat dilihat dari begitu besarnya respons mahasiswa terhadap aktivitas yang berbau entertainment, seperti parade musik, festival band, dan lain-lain. Di sisi lain, dapat dilihat begitu rendahnya tingkat acceptability kegiatan ilmiah di tataran mahasiswa. Tidak heran jika hanya segelintir mahasiswa yang mendatangi forum ilmiah walaupun diselenggarakan di lingkungan kampus sekalipun.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan acara yang bernuansa entertainment, melainkan mempertanyakan kemasannya yang cenderung berlebihan sehingga mengantarkan pola pikir individu pada paradigma pragmatis-hedonis.

Ironisnya, format kemasan ini acap kali diselenggarakan di lingkungan kampus dan dikonsep mahasiswa yang seharusnya mengerti bahwa paradigma pragmatis-hedonis merupakan bentukan negara asing yang ingin menghancurkan generasi penerus bangsa ini. Mereka pun sesungguhnya telah mengerti, selama ini warisan asing yang banyak diadopsi masyarakat kita lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya. Tengok saja bagaimana dekadensi moral tidak dapat terelakkan di negeri ini, yang kemudian berimplikasikan pada terjadinya kasus pemerkosaan, perampokan, penganiayaan, dan lain sebagainya. Sudah berapa banyak remaja kita yang menjadi “budak” asing dengan selalu mengikuti tren mode (jenis-jenis pakaian dan aksesori tubuh) yang sedang booming, menduplikasi secara utuh kebiasaan buruk masyarakat asing (biar tidak dibilang ketinggalan zaman), bahkan acara yang heboh di negeri luar pun turut dijiplak. Parahnya lagi, semua komponen yang ada membuka pintu terhadap prosesi perjalanan budaya asing ke ruangan Nusantara ini, termasuk media massa kita.

Media massa yang sesungguhnya dapat berfungsi sebagai agent of counter terhadap hadirnya budaya asing, yang banyak merugikan, tampaknya tidak dapat diandalkan lagi. Media massa yang seharusnya memberikan pencerahan kepada masyarakat luas justru melakukan tindakan sebaliknya, menyodorkan sajian yang dapat membentuk pola pikir seseorang untuk secara tidak sadar menerima budaya asing. Sajian itulah yang kemudian mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang, terutama kalangan remaja termasuk mahasiswa.

Akademia

Dari waktu ke waktu, pencarian bintang semakin marak diselenggarakan media massa televisi. Dan dalam kurun waktu singkat — kurang lebih tiga bulan, mampu mengantarkan orang biasa menjadi orang yang luar biasa, bak selebritis kondang yang selalu dipuja penggemarnya. Tidak heran jika seabrek orang mendaftarkan diri untuk mengikuti proses audisi sebagai tahapan awalnya sebelum ditetapkan menjadi seorang selebritis atau apalah sebutannya. Mereka rela mengantre seharian di tempat-tempat audisi, bahkan sampai tidur-tiduran ketika menunggu gilirannya dipanggil untuk menjalani proses audisi.

Merekapun berasal dari status dan jenis pekerjaan yang berbeda-beda, mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan swasta, hingga pegawai negeri. Mereka datang dari seluruh pelosok daerah di Indonesia, dari semua suku dan adat-istiadat yang beraneka ragam. Sayangnya, keanekaragaman latar belakang daerah dari masing-masing calon akademia yang sesungguhnya merupakan kekayaan negeri ini tidak terlalu banyak diekspos. Bahkan sampai menjadi seorang akademiapun, dalam penampilan setiap minggunya, tubuhnya justru dibungkus dengan mode-mode bercorak asing, seperti rok mini, baju bikini, dan segala macam aksesoris yang bernuansa budaya asing. Bukan pakaian adat atau aksesoris apapun yang menunjukkan budaya kita sendiri, yang sesungguhnya patut untuk dibanggakan.

Secara perlahan-lahan, acara semacam ini dapat melunturkan kecintaan seseorang terhadap nilai-nilai budayanya sendiri. Awalnya memang dimulai dari para akademia, tetapi kemudian akan merembes kepada semua pemirsa televisi yang, sejauh pengamatan penulis, sangat mengagung-agungkan para bintang idolanya. Terlihat dari berjubelnya para penggemar yang memadati lingkungan asrama akademia hanya untuk sekedar berjabat tangan, mengambil foto, dan meminta tanda tangan. Selain itu, tampak begitu panjangnya antrean loket pembelian karcis masuk sebuah konser akademia setiap minggunya. Belum lagi larisnya berbagai macam marchandise yang berkaitan dengan akademia.

Televisi

Mengubah dunia kehidupan sebuah masyarakat tertentu sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Cukup menggunakan televisi sebagai sarananya. Sebab, menurut Baudrillard dalam Simulation (1983), “Televisi adalah dunia”. Artinya, kehidupan masyarakat yang memasuki era post-modern di dunia ini mudah digerakkan atau diubah hanya dengan menjadikan televisi sebagai remote control-nya. Baudrillard mengatakan, realitas kehidupan sehari-hari merupakan sebuah refleksi dari model-model dan citra yang muncul dalam televisi.

Dunia Televisi

Apapun yang dicitrakan televisi akan diterjemahkan masyarakat dalam setiap tingkah dan perilakunya. Masyarakat seakan-akan tersugesti untuk melakukan hal yang sama dengan segala hal yang menjadi tawaran televisi. Proses building image (baca: pencitraan) yang dilakukan televisi kemungkinan besar akan menjadi kenyataan dalam kehidupan sesungguhnya. Maka tak heran apabila kehidupan kalangan remaja akhir-akhir ini mengalami banyak perubahan. Perubahannyapun banyak ditentukan oleh apa yang dicitrakan televisi. Jika televisi kita mengikuti apa yang menjadi kemauan negara asing, kehidupan bangsa dan negara ini, cepat atau lambat, akan menjadi duplikat dari kehidupan di negara asing di masa-masa mendatang.

Oleh karena itu, pertelevisian kita harus segera melakukan refleksi diri dan secepat mungkin berbenah. Sudah saatnya pertelevisian kita bersama-sama media massa lainnya, sebagai sarana transformasi dan informasi, menyajikan nilai-nilai yang dapat membentuk pola pikir masyarakat yang cinta akan tradisi budayanya sendiri dan mampu menepis budaya asing yang niscaya dapat merongrong eksistensi jati diri bangsa ini. Bukan justru melanggengkan hadirnya budaya asing melalui kemasan-kemasan acara yang menampakkan kehidupan negara luar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s