Lebih jahat Koruptor atau Israel?

Posted: 20 Januari 2011 in Hukum, politik, sosial dan budaya

Penggemar korupsi di negeri ini begitu banyak. Sudah mengakar, seperti telah membudaya. Indonesia negara yang dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa seharusnya jadi negara maju. Tetapi, nyatanya rakyat miskin sangat. Bangsa ini amat sulit menyejajarkan diri dengan bangsa kaya. Salah satu penyebab utamanya, korupsi. Sekian lama bangsa ini dibuat dungu oleh korupsi. Apabila musuh bangsa Palestina adalah bangsa Israel, musuh bangsa Indonesia adalah koruptor, yaitu bangsa sendiri. Sepertinya amat sulit memberantas korupsi di negeri ini. Kalaupun ada, itu hanyalah tindakan ”basa-basi hukum”, bahwa ada upaya tindakan melawan korupsi. Dalam permulaan pemerintahan SBY-JK harus diakui ada kesungguhan yang memberi harapan yang cukup menggembirakan.

Siapa sih koruptor itu? Koruptor bisa saja tetangga kita, sahabat kita, guru kita, mungkin juga orangtua kita, atau bahkan kita sendiri. Dari pengadilan korupsi kita saksikan koruptor itu bisa seorang jenderal, tokoh partai, panutan kita sehari-hari yang biasa memberi wejangan kepada kita. Bisa pula tokoh agama, atau siapa pun dari tokoh paling elite sampai tingkat desa. Penampakannya sehari-hari pun beragam: bisa galak, sombong, sok wibawa, sok kuasa atau lemah lembut, dermawan. Atau, pura-pura miskin. Akal-akalannya luar biasa canggihnya. Dengan sedikit berfantasi, kita bisa mendapat gambaran lebih banyak siapa dan bagaimana koruptor itu.

Kita tidak rela bila dijidat kita ada cap bangsa korup atau lemah iman karena korupsi. Tetapi, itulah kenyataannya.

Para koruptor tentu akan menolak bila dikatakan perilaku korupsi itu warisan budaya atau warisan genetik leluhurnya. Korupsi itu bakat dan hobi pribadi. Dia muncul mewabah dalam suatu kurun waktu dan melahirkan tindak kejahatan lain, seperti praktik suap, patgulipat, kolusi, nepotisme, dan kriminal kreatif lainnya. Mungkin coba lakukan saja penelitian, misalnya, kepada penjahit apakah ukuran lengan baju bangsa kita di atas rata-rata standar internasional? Bukankah korupsi sama dengan mencuri alias panjang tangan. Dan saking banyaknya peristiwa korupsi di negeri ini, boleh jadi malaikat yang bertugas mencatat kejahatan korupsi di negeri ini sudah kehabisan stok kertas.

Pertanyaannya, jahat mana koruptor dengan Israel? Mari kita lihat perbandingannya:

Koruptor itu mencuri diam-diam kekayaan bangsa sendiri. Membunuh bangsa sendiri secara perlahan-lahan. Membuat bangsa yang kaya ini terpuruk miskin. Hak orang miskin pun diembat juga. Posisi koruptor sering terhormat bahkan rumahnya pun dijaga. Kalau tertangkap, diperiksa berbelit-belit, dibantu pengacara mahal pula. Di tahanan atau penjara-pun tetap dimanja dan dihormati. Pen-jera-an dan sanksi sosial terhadap mereka amat lemah. Rasa keadilan masyarakat terinjak. Itu sebabnya kepercayaan masyarakat kepada aparat penegak hukum sangat rendah. Demikian pula dengan supremasi hukum kita rendah di mata dunia internasional.

Bagaimana dengan Israel? Israel, sekalipun mendapat protes dari dunia dan PBB atas kejahatan kemanusiaannya, tetap bersikeras menyiksa dan menzalimi Palestina. Kantor PBB pun diserang. Ribuan korban mati atau luka. Bantuan kemanusiaan pun amat sulit masuk. Solidaritas dan seruan berjihad untuk membantu Palestina merebak di mana-mana karena kekejamannya dianggap sudah melewati batas. Bangsa Israel sekalipun bukan bangsa yang besar tetapi cerdas dan kuat, sayangnya licik. Bukan Israel kalau gampang tunduk kepada kehendak negara lain.

* * *

Korupsi itu perbuatan tega dan kejam. Mengapa tidak pernah ada keinginan untuk berjihad melawan koruptor?

Susah sekali memilih mana yang lebih kejam dan jahat, apakah para koruptor atau Israel? Semoga bangsa Indonesia tercinta ini segera terbebas dari korupsi. Berjuanglah agar tetap beradab dan berperikemanusiaan, tidak mengikuti jejak bangsa Israel.

Lita aja rambut Teten Masduki (ICW) semakin tipis. Rambut Erry Riana Hardjapamekas (mantan Ketua KPK) pun semakin putih. Semua itu karena memikirkan betapa berat memberantas korupsi di negeri ini. Semoga teman-teman seperti Abbe Baron, Robby Sastro, Adi Jogja, Vicky Kecenk dan Haris Ambon tidak mengalami seperti yang dialami Teten dan Erry. ^_^

Diadopsi dari harian Kompas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s