Negara Teka-teki

Posted: 7 Februari 2011 in politik

Oleh: Benny Susetyo (Pendiri Setara Institute)

Di era serbaterbuka sekarang ini, banyak hal yang masih penuh dengan teka-teki. Negeri teka-teki yang memunculkan banyak sekali misteri.

Seolah-olah rakyat tahu banyak hal, tetapi senyatanya tidak begitu. Masalah Munir, kasus Tibo, kerusuhan rasial Mei 1998, perselingkuhan pejabat dan koruptor yang berlarian ke luar negeri adalah teka-teki. Kita tahu satu aspek (misalnya, Munir memang dibunuh karena ketakutan politik), tetapi tidak tahu aspek lain (misalnya, cara menangkap otak pembunuhnya).

Kita menjadi negeri teka-teki karena tak pernah mau belajar mengelola bangsa ini benar-benar berkeadaban. Keadaban publik tidak pernah menjadi fokus bagi para elite politik untuk menata kembali moralitas bangsa. Moralitas bangsa hanyalah simbol yang dikemas rapi dalam pelbagai produk perundangan, tetapi tidak mendasari para elite berperilaku.

Kewajiban elite politik untuk menyediakan ruang publik yang sama bagi semua orang gagal karena mereka sering melahirkan kebijakan dan hukum yang membingungkan. Manakala hukum tak mampu lagi memberikan kepastian, keamanan, kedamaian, ketenteraman, bukankah yang berlaku sama saja dengan hukum rimba? Mereka yang dijerat oleh pasal-pasal hukum baru mereka yang berkelas teri. Aktor intelektual di belakang layar masih bebas untuk memainkan berbagai skandal. Kewibawaan hukum masih berada di bawah bayang-bayang kekuatan politik. Pasal-pasal hukum kita sedang terpenjara oleh kekuatan politik yang sekarang ini sedang berkuasa. Publik pun semakin tak berdaya menghadapi kenyataan ini.
Negeri kita hanya bisa menangkapi para pelacur—atau mereka yang diduga sebagai pelacur karena keluyuran di malam hari— tetapi tidak pernah bisa memberikan solusi konkret bagaimana agar mereka tidak melacur. Aturan ketenagakerjaan kita dibuat untuk menguntungkan pemodal, sementara buruh tetap hidup pas-pasan.

Tiga Soal Mendasar

Ada tiga soal mendasar yang kini jarang lagi didiskusikan. Pertama, ketidakjelasan ideologi bangsa, ketidakjelasan konsep pembangunan, serta mulai memudarnya kewibawaan kepemimpinan. Paham kebangsaan kita semakin lama semakin meredup, tidak jelas, dan makin diombang-ambingkan oleh kekuatan internasional. Akibatnya, rakyat mulai mempertanyakan apa sebenarnya yang telah diperbuat pemimpin selama ini.

Seharusnya, ketika kita menerima Pancasila sebagai ide bersama, maka hal ini akan berimplikasi kepada siapa pun pemimpinnya untuk menjalankan kebijakan dengan dasar saling menghormati, berasas pluralisme, kemanusiaan, dan persatuan yang didasari oleh keanekaragaman budaya. Lalu kedaulatan rakyat yang dimanifestasikan dalam daulat hukum harus dijunjung tinggi untuk meraih apa yang kita nyatakan sebagai keadilan ekonomi.

Pemimpin yang menjalankan lima asas ini berarti dia memiliki visi akan dibawa ke mana bangsa ini. Pemimpin yang memiliki visi dasar tersebut akan mempunyai orientasi jelas atas bangsa ini. Namun, realitasnya sedikit demi sedikit kita kehilangan pemimpin yang benar-benar teguh memegang prinsip-prinsip yang lima tersebut.

Pemimpin kita terlalu ceroboh untuk menyatakan bahwa para investor tidak mau masuk karena para buruh yang gemar unjuk rasa. Kalau mau dipahami, tidak ada yang istimewa yang dituntut buruh. Hanya kehidupan yang layak saja. Tidak perlu kehidupan mewah seperti pejabat. Namun nyatanya? Untuk kehidupan yang sangat sederhana saja, kebijakan sering tidak berpihak kepada buruh. Jadi bagaimana kita mau bersikap adil?

Krisis akan berlangsung bila para pemimpin masih ragu menegakkan moralitas bersama yang bernama Pancasila. Pancasila merupakan roh bangsa ini untuk menata kehidupan publiknya. Pancasila harus menjadi dasar hidup bersama apa pun kondisinya, siapa pun mereka yang berani menekan negeri ini. Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita sungguh-sungguh mengamalkan Pancasila, baik rakyat dan pemimpinnya, tidak ada alasan kita untuk terus berada di lubang krisis. Kita bisa bangkit dengan ideologi bersama. Bukan ideologi agama ataupun paham lainnya, tetapi mewujudkan Pancasila sebagai pendasaran paling ultimate sejauh ini.

Dan kita tak perlu menjadi negeri yang penuh dengan teka-teki seperti saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s